bagus' posts with tag: anime

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag anime
Blog EntryThe Lone Samurai: Miyamoto Musashi Jul 28, '07 3:55 PM
for everyone
Asal-usul Miyamoto Musashi


Provinsi Musashi (武蔵国 musashi no kuni?) adalah provinsi lama Jepang dengan wilayah yang sekarang disebut Tokyo, termasuk hampir seluruh wilayah prefektur Saitama dan sebagian prefektur Kanagawa, termasuk di dalamnya kota Kawasaki dan Yokohama. Provinsi Musashi berbatasan dengan provinsi Kai, Kōzuke, Sagami, Shimōsa, dan Shimotsuke.

Provinsi Musashi merupakan provinsi terbesar di daerah Kanto. Ibu kota terletak di tempat yang sekarang menjadi kota Fuchu, Tokyo. Kuil resmi terletak di tempat yang disebut Kokubunji, Tokyo.

Di zaman Sengoku, Edo merupakan kota terbesar di provinsi Musashi sekaligus kota terbesar di bagian timur Jepang. Istana Edo merupakan pusat kekuasaan Tokugawa Ieyasu. Sesudah memenangkan Pertempuran Sekigahara, Ieyasu menjadikan Edo sebagai pusat kekuasaan Keshogunan Tokugawa.

Edo terus menjadi kota terbesar di Jepang selama zaman Edo hingga berganti nama menjadi Tokyo di zaman Restorasi Meiji.

Asal keturunan

Panggilan masa kecil Musashi adalah Bennosuke. Nama Musashi sendiri adalah nama kuno sebuah daerah di barat daya Tokyo. Nama No Kami berarti kaum bangsawan daerah setempat. Pada umumnya, Fujiwara adalah nama asal dari keluarga leluhur para bangsawan di Jepang yang diturunkan ribuan tahun yang lalu. Nenek moyang keluarga Musashi (Hirada/Hirata) adalah keturunan keluarga Shinmen, penguasa di Kyushu, pulau bagian selatan Jepang.

Ayah Musashi, Munisai Hirata, meninggal ketika ia diperkirakan baru berusia 7 tahun. Setelah ibunya kemudian juga meninggal, maka Musashi kemudian ikut paman dari pihak ibu. Dengan demikian, ia sudah yatim piatu ketika Toyotomi Hideyoshi menyatukan Jepang pada tahun 1590. Tidak jelas apakah keinginan bermain Kendo adalah berkat pengaruh pamannya ataukah keinginan Musashi sendiri.
Musuh pertama Musashi ditemuinya ketika ia baru berusia 13 tahun. Ia adalah Arima Kihei, samurai perguruan Shinto Ryu bidang seni militer yang terampil bermain pedang dan tombak. Musashi mengalahkannya dengan cara melemparnya ke tanah dan memukulnya dengan tongkat, sehingga musuhnya tersebut mati berlumuran darah.

Ketika ia berusia 16 tahun, Musashi mengalahkan lawan berikutnya, dan sejak itu ia kabur dari rumah dan terlibat dalam berbagai kontes pertarungan dan peperangan sampai ia berusia 50 tahun. Musashi mengembara keliling Jepang dan menjadi legenda. Berbagai musuh terkenal pernah dikalahkannya, antara lain samurai-samurai keluarga Yoshioka di Kyoto, jagoan pedang kondang Muso Gonosuke di Edo, bangsawan Matsudaira di Izumo, dan Sasaki Kojiro di Bunzen.

Salah satu peperangan terkenal yang sering dikatakan melibatkan Musashi adalah Pertempuran Sekigahara di tahun 1600, antara pasukan Tokugawa Ieyasu dan pasukan pendukung pemerintahan Toyotomi Hideyori, dimana ribuan orang tewas terbantai dalam peperangan itu sendiri dan pembantaian sesudahnya oleh tentara pemenang perang.

Setelah melewati periode pertarungan dan peperangan tersebut, Musashi kemudian menetap di pulau Kyushu dan tidak pernah meninggalkannya lagi, untuk menyepi dan mencari pemahaman sejati atas falsafah Kendo. Setelah sempat meluangkan waktu beberapa tahun untuk mengajar dan melukis di Kuil Kumamoto, Musashi kemudian pensiun dan menyepi di gua Reigendo. Di sana lah ia menulis Go Rin No Sho, atau Buku Lima Lingkaran/Lima Unsur. Buku ini adalah buku seni perang yang berisi strategi perang dan metode duel, yang diperuntukkan bagi muridnya Terao Magonojo. Buku ini menjadi klasik dan dijadikan rujukan oleh para siswa Kendo di Jepang. Musashi dianggap sedemikian hebatnya sehingga di Jepang ia dikenal dengan sebutan Kensei, yang berarti Dewa Pedang. Tak lama setelah itu, Musashi meninggal di Kyushu pada tahun 1645



Blog EntryMiyamoto MusashiJul 28, '07 3:41 PM
for everyone
Jalan Panjang Samurai Nomor Wahid




Ada yang mengatakannya sebagai Gone with The Wind-nya Jepang. Musashi memang bukan cuma kisah silat atau kisah hidup kesatria samurai bernama Miyamoto Musashi yang diyakini hidup di abad ke-16 (1584-1645). Novel karangan Eiji Yoshikawa ini adalah kisah tentang masyarakat Jepang dan bagaimana generasi modern Jepang---ketika nasionalisme sedang dipompa menjelang Perang Dunia II---melihat masa lalu negerinya. "Kisah ini memberikan kilasan sejarah Jepang dan pemahaman akan idealisasi citra-diri manusia Jepang masa kini," tulis Edwin O. Reischauer, ahli Jepang dari Universitas Harvard, dalam pengantar buku itu.

Awalnya novel ini terbit dalam bentuk cerita bersambung di Asahi Shimbun, koran terkemuka negeri itu, pada 1935-1939 dalam 1.009 kali (Di Indonesia, terjemahan awalnya juga dimuat secara bersambug di Kompas). Meski ditulis jauh lebih awal dari novel Shogun (1975) karya James Clavell, Musashi yang terjemahan bahasa Inggrisnya baru terbit pada 1981 seperti ingin memberi sebuah kritik dan jawaban pada Shogun.

Keduanya mengambil latar sejarah yang sama, ketika shogun (penguasa militer) sedang jaya berkuasa di abad ke-16 dan ke-17. Berbeda dengan Shogun yang menyoroti kehidupan elit politik, Musashi menyoroti kisah hidup jago pedang yang merangkak dari bawah. Perjalanan anak muda yang kalah dan terbuang menuju kesatria samurai nomor satu di Jepang. Lewat 1.247 halaman novel ini Yoshikawa merekamkan kepada kita secara detil perkembangan kepribadian sang jagoan.

Memang, ada dramatisasi dan rekonstruksi detil yang dikarang sendiri oleh Yoshikawa, terutama di awal-awal kehidupan Musashi---saat masih bernama Shinmen Takezo---mengingat minimnya catatan sejarah. Tapi Yoshikawa berusaha sekuat tenaga untuk kembali ke lembar sejarah yang sahih, termasuk saat membuat sejumlah karakter di sekitar Musashi. Ini berbeda dengan novel Shogun yang penuh dengan kesalahan sejarah.

Minimnya catatan sejarah juga membuat Yoshikawa terjebak pada banyak kebetulan saat ingin menyambungkan satu potongan dalam kisah hidup Musashi dengan potongan lainnya. Misalnya, bagaimana Musashi, Matahachi (temannya yang disangka sudah dibunuh oleh Musashi) dan kerabat Matachi yang ingin membalas dendam pada Musashi, bertemu dalam satu waktu di Osaka. Ini terjadi setelah tahunan berlalu.

Tapi pemilihan Musashi sebagai tokoh yang diangkat dalam novel ini amat tepat. Ia hadir saat kelas keluarga samurai dan rakyat biasa belum terpisah. Ia juga hidup ketika Portugis sudah mulai mengenalkan senjata api, hingga peran pedang dalam pertempuran tak lagi penting. Apalagi penguasa militer sudah mulai meredam perang antara daimyo (tuan tanah).

Dalam kondisi damai, pertarungan dengan pedang akhirnya lebih fokus pada seni dan filsafat. Pada pengendalian diri. Maka terciptalah 1.700 lebih aliran permainan pedang. Musashi sendiri mengarang buku berjudul Go Rin No Sho atau Buku Lima Cincin tentang kenjutsu dan seni bela diri.

Para pendekar tidak lagi bertarung dalam pertempuran besar, tapi dalam duel-duel perseorangan. Babak final dari pertarungan ini adalah saat Musashi harus berhadapan dengan Kojiro yang membencinya dan sangat ingin membunuhnya dalam duel di Edo (Tokyo). Ia yang hidup dengan darah dan air mata tahu benar, jalan Samurai harus diawali dengan pedang. Tapi dalam pertarungan itu ia sudah amat bijak. Ia tahu, tak mungkin mengalahkan Kojiro hanya dengan pedang saja. "Kojiro meletakkan keyakinannya pada pedang kekuatan dan ketrampilan. Musashi mempercayakannya pada pedang semangat. Itulah satu-satunya beda di antara mereka."

Musashi menang, tapi ia tak berniat untuk membunuhnya. Ketika ia meninggalkan Kojiro yang terluka, masih ada sengal nafas dari hidung lawannya. "Ia bersujud satu kali ke bumi, kemudian lari ke batu karang, dan melompat ke dalam perahu. Tidak setetespun darah menodai pedang kayunya.



akhirnya dapat yang agak lengkap artikel tentang Miyamoto Musashi legenda samurai yang gwe idolakan dari kecil




© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.